politik ala purna!

tadi malam saya dapat info baru tentang politik yang dimainkan purna bakhti pramuka di SMA saya..
ternyata purna-purna itu memang punya strategi sendiri dalam menentukan siapa ketua dewan ambalan..
ternyata firasat saya selama saya masih menjadi anggota dewan dulu terbukti benar..

purna (alumni) memang punya peranan dalam menetukan siapa ketua dewan ambalan selanjutnya..
kata-kata purna : “purna memang tidak punya hak dalam menentukan dewan, tapi purna bisa membelokkan keputusan yang ada”
kurang lebih seperti itu…

dan sayangnya,
saya tidak suka dengan cara seperti itu..
kecurigaan saya sewaktu pemilihan ketua dewan yang terakhir terbukti benar..
saya masih ingat jelas waktu itu pemilihan ketua dewan untuk masa jabatan 2010..
karena masa jabatan untuk angkatan kami, 2009 telah habis..
yang ikut pemilihan adalah anak-anak dari angkatan 2011,
yang notabene masih anggota baru,
masih kelas satu..
seharusnya yang menjabat adalah anak-anak dari angkatan 2010,
tetapi karena tidak adanya lagi anggota yang aktif dari angkatan tersebut,
maka dengan terpaksa dilakukan pemotongan generasi..
dilakukanlah pemilihan ketua setelah LPJ angkatan kami rampung dan dengan tanpa halangan yang berarti berhasil diterima oleh semua pihak..
ada tiga calon pada pemilihan kali ini..
yang sempat membuat kami dari dewan ambalan putri gerah dan kecewa adalah calon terkuat untuk ketua dewan ambalan pada saat itu kami nilai tidak murni dalam membuat visi dan misinya..
seolah ada campur tangan purna yang membuat kami merasa kecewa..
sebab,
yang kami harapkan adalah dia dapat membuat dan memaparkan visi dan misinya sendiri,
murni dari hasil pemikirannya sendiri..
sebagai bukti nyata hasil pengkaderan yang telah kami berikan..
tapi toh ternyata visi dan misinya sendiri terlalu mencurigakan dengan bahasa yang terlalu ‘dewasa’ menurut kami..
dan meskipun akhirnya dia yang terpilih..
kami dari pihak ambalan putri masih merasa kecewa..

dari sinilah saya merasa bahwa tidak seharusnya kita bermain politik seperti itu..
bagaimana seandainya ketua yang ‘dipilih’ purna tersebut tidak sesuai dengan yang diinginkan para anggota itu sendiri?
seharusnya kita biarkan saja semuanya berjalan apa adanya..
biarkan demokrasi berjalan dengan semestinya tanpa ada campur tangan dari pihak purna..
karena apapun hasilnya nanti semuanya menjadi tanggungan bersama..
karena yng terpilih merupakan hasil kepercayaan mayoritas anggota..
dan dengan begitu kepercayaan yang akan membentuk suatu kemajuan dalam organisasi..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s