Pulau Samalona

Kemarin pertama kalinya saya snorkeling! Yeay!
Yah, meskipun snorkeling-nya masih abal-abal. Soalnya saya tidak bisa berenang dan takut tenggelam meskipun sudah pakai pelampung.

Kemarin pertama kalinya juga saya ke Pulau Samalona, salah satu dari sekian pulau di Makassar yang banyak dikunjungi wisatawan.
Saya kesana bareng kakak sepupu saya dan iparnya, keponakan-keponakan saya dan temannya.

Untuk sampai kesana, kita harus menyeberangi laut sekitar 15 menit dari pantai.
Kemarin saya naik perahu kesana.
Harga sewa perahunya cukup mahal, sekitar 400ribu.
Tapi bisa ditawar kok.
Kakak sepupu saya menawarnya sampai 350ribu, sudah termasuk nganterin kita buat snorkeling.

Selama perjalanan menyeberangi laut, ada pemandangan indah yang tidak bakal kita temui sehari-hari.
Pemandangan laut luas sejauh mata memandang beratap langit biru membentang di atas.
Meskipun silaunya matahari cukup terang (karena kita berangkat jam dua siang) tapi tidak menyurutkan indahnya pemandangan.

Ada juga kapal-kapal besar yang berhenti di tengah laut, membuat bulu kuduk merinding memandangi benda raksasa mengapung di tengah laut.
Salah satu kapal yang berhenti adalah kapal Gas Indonesia, yg memproduksi gas LPG itu lho.
Selain kapal, ada juga pulau-pulau yang mengapung di tengah laut.
Jaraknya lumayan berjauhan.
Yang paling dekat adalah Pulau Lae-Lae. Pulau ini juga banyak dikunjungi wisatawan.

Beberapa saat setelah melewati Pulau Lae-Lae, yang ada hanya hamparan laut.
Sampai akhirnya muncul deh satu pulau yang dari jauh saja sudah kelihatan pasir putihnya.
Ini bukan pertama kalinya saya melihat pasir putih, tapi tetap sama excited-nya seperti pertama kali melihatnya.

Pulau Samalona tidak terlalu besar,
Kecil malah. Hanya butuh waktu berapa menit saja untuk mengelilingi pulau ini dengan jalan kaki. Kemarin saya, keponakan saya dan temannya (mereka semua anak SD) mengelilingi pulau ini bertelanjang kaki. Alhasil, di bagian belakang pulau, kaki kita sempat sakit karena menginjak batu-batuan pantai.

Sampai di Samalona, hal pertama yang kami lakukan adalah turun dari perahu (iyalah, hehehe)
Baru turun, kami sudah dikerumuni beberapa ibu-ibu yang menawarkan penginapan, alat snorkeling dan bale-bale untuk duduk.
Kakak sepupu saya memilih bale-bale, karena kami tidak berencana nginap.
harga satu bale-bale hanya 20ribu sja.
Kami juga memesan alat snorkeling. Satu paket harganya 50ribu -pelampung, snorkel dan sepatu- kalau cuma mau sewa pelampung saja harganya 10ribu.

Saya segera ganti baju, karena sudah tidak sabar mau nyemplung ke air.
Airnya bersih sekali. Warnanya biru.
Bayangin, pasir putih dengan air laut warna biru dengan batu-batuan khas pantai berwarna putih.
Just like heaven!

Saya main-main di air sesuka hati bersama keponakan saya dan kakak sepupu saya, berjalan-jalan di pinggir pantai, mencoba memakai snorkel dan duduk di dalam air melihat pemandangan di bawahnya.
Warna di bawah laut dekat bibir pantai adalah putih. maklum, pasir di bawah laut juga warnanya putih.

Saya belum pernah snorkeling. Jadi saya juga nggak tahu caranya pakai snorkel. Saya sampai minta diajarin cara pakainya sama kakak sepupu saya, yang sudah sangat berpengalaman soal snorkeling (iparnya saja menjuluki dia anak pulau, saking seringnya traveling ke pulau dan pantai)
Snorkel sebenarnya cuma kacamata yang dipasangi alat bantu pernafasan gitu kok. Cara pakainya yah kayak pakai kacamata renang biasa.
Hanya saja alat bantu pernafasannya yang bikin bingung.
Ternyata cuma harus dimasukkan ke dalam mulut, jadi kita bernafasnya lewat mulut.

Saya juga sempat coba-coba pakai pelampung, karena selama ini saya tidak pernah pakai pelampung. Ternyata tidak enak. Yang ada saya justru kebanting dan akhirnya posisi badan saya telentang di tengah-tengah air.

Setelah puas basah-basahan di air dan nyoba-nyoba snorkel,
saya pun tiduran di pinggir pantai, menghadap langit, menutup mata, menikmati hantaman halus ombak di badan saya.
Rasanya benar-benar tenang.

Kakak sepupu saya lalu mengajak saya untuk snorkeling.
Awalnya saya ragu, karena saya tidak tahu berenang. Tapi toh saya juga ikut.
Saya pun memakai alat untuk snorkeling lengkap. Sayangnya, sepatunya bukan sepatu katak, tapi sepatu model biasa. Meskipun sepatunya kebesaran (size 39!) tapi saya tetap memakainya.
Kakak sepupu saya bilang tidak masalah kalau size-nya kebesaran, karna sepatu itu didesain supaya tidak mudah lepas dari kaki.
Sepatu itu gunanya supaya melindungi kaki dari tusukan karang dan bulu babi.

Kami pun berangkat snorkeling.
Si supir perahu membawa kami ke tengah-tengah laut dekat mercusuar. Ada beberapa kapal juga yang singgah di bagian lain. Mungkin mereka juga mau snorkeling.

Dari atas perahu, kami bisa melihat jelas bayang-bayang batu karang di bawah. Kakak sepupu saya menaksir airnya tidak dalam.
Tapi setelah kakak sepupu saya turun dan berenang di bawah, ternyata airrnya dalam.
Nyali saya pun menciut untuk turun. Bagaimana kalau badan saya kembali terbalik telentang ke atas sama seperti saat saya mencoba pelampung tadi dan saya panik dan tenggelam?

Tapi setelah keponakan saya dan temannya ikut turun ke bawah (meskipun keponakan saya juga tidak tahu berenang) nyali saya pun kembali muncul.

Si supir perahu memegang satu tangan keponakan saya dari atas perahu sementara keponakan saya mengapung di air, mencelupkan kepalanya ke bawah dan menikmati pemandangan yang ada di bawah sana.

Saya pun memberanikan diri.
Saya ikut turun ke air memakai tangga. saat sampai di air, satu tangan saya tetap memegang tangga sementara saya mencelupkan muka saya ke dalam air.
Tapi tidak lama, karena pelampung saya benar-benar mengganggu. Pelampung saya malah lari naik sehingga kepala saya jadi tidak bebas.
Supir perahu menyuruh saya naik untuk memperbaiki pelampung saya.
Saya pun naik kembali ke perahu.
Supir perahu mengikat pelampung saya seketat mungkin.
Saya pun kembali turun.
Tapi tetap saja, belum sempat menikmati, pelampungnya kembali lari naik.
Saya naik lagi ke perahu.
Supir perahu bilang, posisi saya saat di air yg salah, sehingga membuat pelampungnya naik. Posisi saya di dalam air berdiri, harusnya saya tengkurap.
Saya hanya bisa memandangi kakak sepupu saya yang lagi asyik snorkeling sambil foto-foto,
memandangi keponakan saya dan temannya yang berkumpul di dekat tangga dan mencoba snorkeling, ada juga yang asyik berenang tanpa mau ribet snorkeling.

Saat semua orang sudah selesai snorkeling dan naik ke perahu, saya kembali ingin mencoba snorkeling.
Saya pun memberanikan diri.
Saya kembali memakai kacamata snorkel dan bersiap turun.
Kali ini pasti lebih baik karena di bawah sudah tidak ada keponakan saya dgn temannya yg mengerubungi tangga.
Turun dari tangga, saya kembali nyemplung di air.
Kali ini saya membuat diri saya tengkurap, jadi bisa menikmati pemandangan di bawah dengan nyaman.
Rasanya benar-benar takjub.
Seperti ada di dalam akuarium.
Ada banyak karang dengan ikan-ikan kecil berenang di sekitarnya.
Tapi ketakjuban saya tidak berlangsung lama.
Karena tiba-tiba air masuk ke dalam hidung saya, memenuhi snorkel saya dan akhirnya saya pun bernafas dengan air.
Rasanya antara pedih dan asin.
Kepala saya segera muncul kembali di ambang air,
saya membuka snorkel dan mengambil nafas di udara.
Tips saya (dan semua orang yang sudah perrnah snorkeling), sebelum snorkeling pastikan alat snorkel-nya benar-benar pas dan ketat menutupi hidung, supaya air tidak bisa masuk.

Akhirnya, setelah puas snorkeling (mungkin cuma kakak sepupu saya saja sih yang puas hehehe) kami pun kembali ke pulau.
Saat mendarat kembali di pulau,
Saya mengajak keponakan saya dan temannya untuk berkeliling pulau. kami berempat pun berkeliling tanpa alas kaki.
Di akhir jalan-jalan kami, ketiga anak ini malah berhenti di dermaga, kami sempat melihat orang-orang yang sedang sibuk foto-foto, mungkin untuk foto pra wedding, soalnya pakaiannya heboh sekali.
Keponakan saya dan temannya malah memutuskan untuk terjun dari atas dermaga ke air.
Karena mereka sudah asyik sendiri, saya pun meninggalkan mereka.

Saya kembali ke bale-bale, dimana ipar saya sedang duduk bersama anak-anaknya.
Saya lapar, dan saya pun menikmati kue yang kami bawa bersama satu keponakan saya yang masih TK.

Tidak lama setelah itu, saya pun mandi bersih karena kami sudah mau balik.
Harga sewa kamar mandi di Samalona cukup murah, 5ribu. Yang mahal itu harga air tawarnya, 20ribu satu jirigen!
Tapi bisa ditawar juga kok. 20ribu sudah termasuk kamar mandi dan air tawar.
Meskipun bagi saya satu jirigen tidak cukup untuk mandi, tapi saya cukup-cukupkan juga.

Setelah selesai mandi dan sudah rapi kembali,
Kami pun cusss pulang ke kota.
Saat perjalanan pulang ke kota inilah saya kembali mendapati pemandangan luar biasa.
Saat itu jam 5 sore. Di tengah perjalanan, langit berubah mendung.
Tapi saya bisa melihat sesuatu di ujung laut yang entah dimana ujungnya.
Ada siluet gunung di ujung sana.
Saya terpana melihatnya.
Melihat laut dan gunung berada dalam satu frame bagi saya sangat menakjubkan.
Saya pun segera mengambil hp dan mengabadikannya. Sayangnya, siluet gunung itu terlalu jauh untuk bisa tertangkap kamera. Hanya mata saya saja yang bisa menangkapnya dengan baik.
Saya hanya bisa memotret kapal yang berada di tengah laut dengan langit di atasnya.

Tengah Laut Losari

Kapal di Tengah Laut Losari

Sungguh pemandangan dan pengalaman yang memukau. Meskipun biaya ke pulau cukup mahal, tapi untuk sesuatu yang tidak akan kita lakukan dan kita temui sehari-hari, ke Pulau Samalona memang sangat memuaskan. πŸ˜‰

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s