Tomorrow is V- Day! Halo Para Perempuan, Mari Kita Drum, Dance and Rise!

Besok adalah Hari Valentine, yang terkenal sebagai hari kasih sayang. Namun setelah kemarin saya membaca sebuah artikel Gender di BaKTINews yang ditulis oleh Dewi Candraningrum, (Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan), saya kemudian mengenal tanggal 14 Februari sebagai hari yang lain, yaitu hari bangkitnya revolusi melawan kekerasan terhadap perempuan. Sebagaimana biasanya, isu gender selalu menitikberatkan pada persoalan hak-hak perempuan.

Artikel ini membahas mulai dari One-Child Policy di China sampai persoalan budaya di India. Di Asia, isu gender masih cukup keras. Beberapa negara dengan budaya mereka masih percaya bahwa anak laki-laki adalah berkah dan pembawa keuntungan, sementara anak perempuan hanya membawa beban. Saya sudah sangat sering mendengar tentang isu gender dan masalah kebijakan yang ada di China. Tapi saya baru tahu kalau ternyata di India, anak perempuan juga dianggap begitu rendahnya sehingga banyak ibu yang memilih untuk mengaborsi anak mereka jika ketahuan bahwa bayi dalam perutnya adalah perempuan. Rupanya dalam aturan pernikahan di India, yang harus membayar mahar (dalam bahasa India disebut dowry) adalah pihak perempuan. Jika terbukti mahar yang diberikan kepada pihak laki-laki ternyata murah, maka perempuan tersebut akan dibunuh oleh suami atau keluarga suaminya. Cara membunuhnya pun sadis, seperti dibakar, disiram air keras atau bensin. Merasa tertarik dengan informasi ini, saya pun mencari lebih banyak informasi mengenai budaya pernikahan di India.

Berdasarkan data statistik dari National Crime Records Bureau, sebanyak 8,233 perempuan India meninggal di tangan keluarga suaminya karena perselisihan pembayaran uang mahar. Satu orang perempuan dibunuh tiap jamnya. Pertanyaan yang kemudian melintas adalah, kenapa harus dibunuh? Kenapa tidak diceraikan saja? Ternyata, jika suami istri bercerai, maka mahar yang tadinya diberikan oleh pihak perempuan harus dikembalikan. Oleh sebab itu, banyak orang tua yang menginginkan anak laki-laki, karena mereka bisa mendapatkan harta dari mahar tersebut, sedangkan memiliki anak perempuan hanya menghabiskan harta. Jadi, tidak mengherankan jika seorang ibu India tega menggugurkan kandungannya jika bayi yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan, terutama bila dirinya miskin. Sungguh kejam. Aleem Khan Falki, seorang aktivis dari Arab Saudi pun mengatakan bahwa persoalan mahar di India merupakan “kejahatan sosial”.

Dalam isu gender dikenal istilah Femicide atau Gendercide, yang berarti usaha pembunuhan massal terhadap bayi perempuan, anak-anak perempuan, atau perempuan dewasa disebabkan oleh praktek-praktek kebudayaan misoginis yang tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tapi juga perempuan. Femisida pun memiliki bentuk yang beragam, mulai dari aborsi, membunuh demi membela kehormatan keluarga, serangan air keras, pembunuhan dan pembakaran dukun-dukun perempuan yang dianggap berbahaya, foeticide (aborsi janin), dan kekerasan rumah tangga yang mengakibatkan kematian, hingga konflik komunal dengan memerkosa anak-anak perempuan sekaligus membunuhnya seperti yang terjadi di Rwanda, Afrika.

Di Indonesia sendiri, isu gender masih tetap ada, sekalipun Raden Adjeng Kartini sudah memproklamirkan emansipasi wanita. Isu gender di Indonesia meliputi kasus-kasus seperti pelecehan, kekerasaan, pemerkosaan dan pernikahan dini. Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan Tahun 2013, telah terjadi 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan jumlah kasus kekerasan seksual yang bertambah menjadi 5.629 kasus dari 4.336 kasus di tahun 2012. Ini artinya dalam 3 jam setidaknya ada 2 perempuan mengalami kekerasan seksual. Saat saya menjadi panitia workshop “Women, Democracy, and Human Rights” yang diadakan oleh Makassar International Writers Festival tahun lalu, ada seorang perempuan yang bercerita bahwa saat dia sedang jogging di Lapangan Karebosi, pantatnya sempat dicolek orang. Pelecehan di tempat umum saja tidak dapat terhindarkan. Apalagi di tempat-tempat private seperti di rumah, sekolah, dll. Kasus pernikahan dini pun masih banyak terjadi. Masih banyak orang tua di daerah yang menikahkan anaknya di usia yang masih sangat muda. Motifnya pun berbeda-beda. Ada yang disebabkan oleh kemiskinan, ada pula yang disebabkan oleh budaya. Bagaimana pun juga, menikah di usia dini tidak baik secara kesehatan, baik dari segi organ reproduksi maupun mental.

Karena beragam isu gender yang masih sangat keras terjadi di berbagai belahan dunia inilah, para feminis dan aktivis gender menggelar aksi One Billion Rising (Satu Milyar Bangkit) dengan motto Drum, Dance, Rise!. Aksi ini diadakan setiap tanggal 14 Februari sejak tahun 2012 (makanya gerakan ini tadinya dikenal dengan nama V-Day) , dengan tujuan untuk mengkampanyekan perlawanan terhadap segala bentuk pelecehan, siksaan dan dan percobaan pembunuhan terhadap perempuan secara global.

One Billion Rising di India

One Billion Rising di India

One Billion Rising di Philipine

One Billion Rising di Filipina

Angka satu milyar pada nama aksi ini sendiri merujuk pada data statistik PBB bahwa setidaknya ada satu dari tiga perempuan mengalami pelecehan, serangan, siksaan, perkosaan, dan pembunuhan dalam hidup mereka. Siapapun bisa ikut aksi ini dengan berkumpul dan menari bersama sebagai bentuk protes untuk melawan segala bentuk kejahatan yang terjadi pada perempuan. Besok, tanggal 14 Februari 2015, aksi ini akan kembali digelar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bertempat di Taman Ismali Marzuki Jakarta, para aktivis gender mengajak kalian semua yang peduli pada isu gender untuk menari bersama. Aksi ini sangat inspiratif. Tidak perlu melakukan kekerasan untuk membalas kekerasan. Tidak perlu melakukan aksi anarkis untuk menciptakan kericuhan, cukup dengan bersatu dan menari bersama. Ayo kita bangkit melawan! OBR-Indonesia-4 Untuk informasi lebih lanjut tentang aksi ini, kalian bisa mengunjungi website One Billion Rising

pictures source : One Billion Rising

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s