Yang Salah Dipahami Terkait Imunisasi

IMUNISASI HALAL!.jpg

Hari ini Pekan Imunisasi Nasional (PIN) diadakan secara serentak di seluruh kota/kabupaten di seluruh Indonesia. PIN masih akan berlangsung selama satu minggu ke depan.

Ada hal yang menarik saat membahas soal imunisasi. Ramai di internet artikel-artikel yang mengatakan bahwa imunisasi adalah haram. Dan bukan hanya di dunia maya, di masyarakat pun ada kelompok-kelompok tertentu yang percaya akan hal tersebut. Permasalahan inilah yang dirasakan oleh beberapa petugas puskesmas di Kota Makassar. angka cakupan imunisasi di Kota Makassar tidak bisa mencapai angka maksimal dikarenakan permasalahan tersebut. Ada dua alasan mayor para ibu tidak ingin mengimunisasi anak mereka : haram dan takut anak mereka demam setelah imunisasi.

Sebenarnya solusi dari masalah ini sangatlah mudah. Penguatan promosi kesehatan adalah kuncinya. Penyebaran informasi dan pengetahuan seluas-luasnya kepada setiap lapisan dan kelompok masyarakat sangat diperlukan.

Pertama, terkait halal dan haramnya imunisasi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa imunisasi adalah halal. MUI bahkan mendukung kegiatan PIN. Pada saat saya menjadi notulen di kegiatan Orientasi Strategi Komunikasi Untuk Meningkatkan Cakupan Imunisasi Rutin Bagi Petugas Puskesmas di Kota Makassar yang diadakan oleh UNICEF bekerjasama dengan BaKTI tahun lalu, perwakilan MUI Kota Makassar telah memaparkan persoalan halal dan haramnya imunisasi ini.

Kelompok yang mengharamkan imunisasi dan vaksinasi beralasan bahwa bahan dasar dari vaksinasi adalah najis. Selain itu, efek samping dari imunisasi dapat menyebabkan autisme. Ada juga yang mengatakan bahwa vaksinasi adalah usaha dagang dari Yahudi.

Kelompok yang membolehkan imunisasi dan vaksinasi beralasan bahwa ada ayat alquran yang mengatakan bahwa “jangan kau menjerumuskan dirimu dalam kehancuran,”. Selain itu, fatwa ulama internasional lebih banyak yang membolehkan daripada yang mengharamkan. Karena bagaimanapun juga mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Seperti hadits dimana Rasulullah menyebutkan bahwa “janganlah engkau meninggalkan generasi yang lemah”. Di Indonesia, NU dan MUI juga membolehkan imunisasi dan vaksinasi.

Babi memang haram dalam Alquran. Namun ada yang namanya istiqlah (sudah disterilisasi, lebih banyak bahan yang bersih/suci daripada yang najis/haram, sehingga terhitung bukan haram) dan istiqlal. Dimana kita berada dalam kondisi darurat dan proses pembuatan vaksinasi sudah disterilkan sehingga tidak haram.

Lebih lanjut, vaksin yang sering disebut mengandung babi adalah vaksin meningitis. Vaksin meningitis tidak masuk dalam imunisasi rutin, sehingga seharusnya tidak ada masalah bagi seorang ibu untuk membawa anaknya ke tempat pelayanan kesehatan guna mendapatkan imunisasi rutin.

Dari segi politisasi, ada kelompok-kelompok Islam yang mengharamkan vaksinasi karena mereka berbisnis herbal. Bagi mereka vaksinasi mematikan usaha mereka sehingga mereka menyebarkan hal-hal mengenai haramnya vaksinasi. Oleh karena itu, pintar-pintarlah dalam menyaring informasi agar tidak termakan isu yang tidak benar.

Negara Islam seperti Mesir bahkan memiliki kebijakan dalam upayanya meningkatkan angka cakupan imunisasi. Syarat untuk mendapatkan akta kelahiran disana salah satunya adalah bayi tersebut sudah diimunisasi lengkap. Mungkin Indonesia bisa mengadopsi kebijakan ini sehingga negara kita mampu melahirkan generasi sehat penerus bangsa.

Kedua, terkait mindset masyarakat yang mengatakan “Habis diimunisasi anak saya malah sakit dan demam,” harus segera diubah. Masyarakat sebaiknya diberi edukasi yang benar mengenai demam. Demam bukan pertanda sakit, tapi pertanda sehat. Jika seseorang sakit lalu demam, itu berarti sistem kekebalan tubuhnya berfungsi dengan baik. Demam menandakan sel darah putih sedang ‘berperang’ melawan benda asing di dalam tubuh untuk melindungi diri kita.

Nah, cara kerja sel darah putih inilah yang menginspirasi imunisasi. Vaksin terbuat dari virus atau bakteri yang dilemahkan yang tentu saja tidak berbahaya lagi. Pada saat vaksin tersebut dimasukkan ke dalam tubuh, sel darah putih akan mengenalnya sebagai benda asing dan berusaha melawannya agar tidak menginvasi tubuh kita. Pada saat itulah terjadi demam. Namun demam ini tidak akan berlangsung lama. Pada saat sel darah putih berhasil memberantas benda asing tersebut, demam otomatis menurun. Dan virus/bakteri lemah yang tadinya dikenal sebagai benda asing, sekarang sudah dikenal oleh sel darah putih. Jika ada virus atau bakteri serupa yang memasuki tubuh, sel darah putih sudah tahu bagaimana cara memberantasnya, sehingga kita tidak akan terinfeksi lagi oleh penyakit yang dibawa oleh virus/bakteri tersebut.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan imunisasi kepada anak yang baru lahir sampai batas umur tertentu. Karena pada saat itu tubuhnya masih belum mengenal virus-virus atau bakteri-bakteri tertentu. Jadi para ibu, jika ingin anaknya tumbuh dengan sehat, jangan ragu ya untuk ikut imunisasi 😉

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s