Review Film : Suicide Squad (2016)

Oh, I’m not gonna kill you… I’m just gonna hurt you really, really bad.

Source : complex.com

Because of that line, I was curious about this movie. Moreover, the picture of badass squad seems like really cool.  I mean, this is DC Comics’ squad. I become DC Comics’ fan since Christopher Nolan made the trilogy of Batman. So I have a great expectation about this film. But, I must say, it is not as great as I expected.

Source : Google

I don’t have that emotion that I feel after watch a good film. This is just….. okay, Harley Quinn is truly badass but that’s all. I still like Joker – Heath Ledger version than Jared Leto, sorry. Maybe because Joker doesn’t have many scenes and doesn’t have an important part of the story. Maybe if he get more attention, maybe I will love him. Because his appearance is really good, with his green hair and that iron teeth.

Will Smith is just Will Smith. Always become a family man. Katana girl doesn’t have strong character, it makes me think that she is not so important, and so on with that guy who have been caught by Flash. The monster is soooo.. duh. Okay, the witch is kinda scary (with Cara Delevigne’s voice) but I don’t know, that is just not enough for me.

The story is not so strong. Underdeveloped. It is like a train running so fast and I can’t catch it. I mean, the plot is messy. The way of the characters be introduced, the story behind them, the climax and anti-climax. Lame.

The only thing that I love besides Harley Quinn is the soundtracks. They are pretty cool, especially Bohemian Rhapsody.

I hope Justice League can do better. I still count on that.

You nailed it, Leo!

Like I said in The Revenant’s review, KETERLALUAN kalau Leonardo DiCaprio tidak menang Aktor Terbaik di Academy Award tahun ini.

After five times nominated for Best Actor and Best Actor in a Supporting Role, akhirnya DiCaprio berhasil meraih piala Oscar-nya! Wohoo!

644xauto-leonardo-dicaprio-menang-oscars-2016-netizen-histeris-160229n-56d40983e6d74-rev1.jpg

Source : Twitter The Fox Magazine

DiCaprio pertama kali masuk nominasi Oscar saat dia bermain di film What’s Eating Gilbert Grape? (1993), berperan sebagai remaja disabilitas dan beradu akting dengan Johny Depp. Perannya tersebut berhasil membawanya masuk nominasi Best Actor in a Supporting Role, namun sayang tidak berhasil menang.

Kali kedua DiCaprio masuk nominasi Best Actor dalam film The Aviator (2004) yang mengisahkan perjalanan sukses Howard Hughes Robert Jr dalam dunia film dan penerbangan. Namun lagi-lagi sayang, DiCaprio belum beruntung.

Dua tahun kemudian film Blood Diamond (2006) membawanya kembali dalam jajaran nominator Best Actor di penghargaan tertinggi sineas Hollywood tersebut. Tapi apa daya, DiCaprio tidak mampu mengalahkan Forest Whitaker (my fave actor too!).

The Wolf of Wall Street (2013) yang mengangkat kisah nyata Jordan Belfort, seorang mantan stock broker Wall Street yang ditangkap oleh FBI, mengantarnya kembali masuk nominasi Best Actor. Aktingnya yang cemerlang di film ini ternyata belum mampu membawa pulang piala. Saya masih ingat jelas saat menonton Academy Award ke 86 di tv. Saya marah-marah sendiri karena yang memenangkan nominasi ini adalah Matthew McConaughey, bukan Leonardo DiCaprio.

Perjalanan panjangnya selama 22 tahun sejak pertama kali masuk nominasi Academy Award dan belum pernah menang membuatnya selalu menjadi bahan candaan 9Gag. Sebenarnya aktingnya selalu keren dan total di setiap filmnya. Hanya mungkin DiCaprio selalu sial karena dinominasikan dengan orang-orang yang jago banget, jadi piala Oscar belum pernah dibawanya pulang. Tapiiii tahun ini, berperan sebagai Hugh Glass di film The Revenant (2016), dia bisa membuktikan kepada semua orang, bahwa kerja keras dan totalitas di setiap film (sekalipun belum pernah menang penghargaan tertinggi) pasti akan berbuah keberhasilan.

644xauto-leonardo-dicaprio-menang-oscars-2016-netizen-histeris-160229n-56d409848f005-rev1.jpg

Source : Tim Yap

Congratzz Bang Leo! You deserve it!

And by the way, like I said in The Revenant’s post too, Alejandro González Iñárritu, the director of The Revenant, lagi-lagi meraih penghargaan Best Director. Ini berarti Iñárritu berhasil memenangkan kategori tersebut dua tahun berturut-turut, setelah sebelumnya dia berhasil lewat film Birdman (2014). Wohoo! Selamat yaa Om Alejandro. Terus berkarya dan hasilkan film-film yang cemerlang.

The Revenant (2016)

Source : IMDb World Korea

“As long as you can still grab a breath, you fight. You breathe… keep breathing” – Hugh Glass

The Revenant merupakan kisah nyata dari Hugh Glass, seorang pemburu kulit yang diserang dengan brutal oleh seekor Beruang Grizzly, ditinggal oleh tim pemburunya untuk mati karena keadaannya yang sangat parah, namun akhirnya mampu bangkit dan menemukan jalan pulang ratusan kilometer dengan kakinya sendiri. Kisah ini sangat luar biasa dan penuh perjuangan. Saat menonton filmnya, kamu pasti akan berpikir “orang ini pasti punya keberuntungan yang besar dan sembilan nyawa,”

Film ini liris bulan Januari di Amerika, tapi baru minggu ini rilis di Indonesia. Saya sendiri sudah nonton film ini berminggu-minggu sebelum filmnya diputar di bioskop.

Overall, film ini bagus banget. Adegan thriller di film ini terasa nyata dan benar-benar mencekam, terutama adegan waktu Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) diserang Beruang Grizzly. Saya dan adik-adik saya bahkan sempat teriak heboh sambil menutup mata. Rasanya seperti dicabik-cabik oleh beruang itu sendiri. Adegannya juga cukup lama sehingga benar-benar terasa menyiksa. Dari sisi gambar dan sinematografi, film ini oke punya. Pengambilan gambarnya dilakukan di lokasi pegunungan bersalju asli dan menggunakan pencahayaan alami. Jadi selama menonton film, kamu bisa sekalian menikmati pemandangan alam yang indah.

Source : wetpaint.com

Kostum dan make up film ini juga bagus banget. Luka-luka Leonardo DiCaprio kelihatan asli, bulu beruang yang dijadikan mantel dan kostum Indian-nya juga oke. Performa para pemainnya tidak perlu diragukan lagi. Leonardo DiCaprio dan Tom Hardy adalah dua aktor andalan saya. Saya mulai suka Tom Hardy saat dia bermain dalam film Inception, yang kebetulan adalah filmnya bersama DiCaprio juga. Jadi bisa dibilang ini adalah kolaborasi kedua mereka bermain dalam satu film. Yang paling mencolok adalah akting Leonardo DiCaprio sendiri. KETERLALUAN kalau dia sampai nggak dapat Piala Oscar tahun ini.

Kelemahan film ini adalah banyaknya tokoh (baik itu tim berburu Hugh Glass, orang Indian, maupun orang-orang Prancis) membuat saya kadang bingung mengingat peran mereka. Durasi film yang cukup lama juga membuat saya sempat mengantuk. Dalam film ini juga tidak dijelaskan mengenai kondisi hubungan antara Amerika dan Indian, apa yang menyebabkan orang-orang Indian ini dihabisi oleh orang-orang Amerika, atau apa hubungan orang-orang Prancis dengan mereka (kecuali kalian sudah pernah baca sejarah tentang Amerika, kalian mungkin akan bingung). Juga tidak dijelaskan lebih detail mengenai latar belakang tokoh-tokoh lainnya seperti si John Fitzgerald (Tom Hardy) yang jahat. Kita hanya bisa menebak-nebak sendiri mengenai keseluruhan cerita.

Tapi bagaimana pun, isi cerita The Revenant sendiri sudah sangat bagus. Kisahnya yang luar biasa dengan pemandangan yang luar biasa dan aksi-aksi thriller yang benar-benar mencekam membuat semua kekurangannnya tertutupi dan pada akhir film kamu pasti akan berkata “Wow!”

Tidak heran jika film yang diadaptasi dari novel Michael Punke ini mampu meraih skor 8.2 di IMDb, meraih penghargaan Best Director, Best Actor dan Best Motion Picture di Golden Globe dan meraih banyak sekali nominasi di Academy Award. Bisa jadi sutradara Alejandro González Iñárritu akan kembali meraih penghargaan Best Director tahun ini. Kita lihat saja.

Jadi film ini sudah jelas a-must-to-watch-film!

 

 

Before I Disappear (2014)

Tidak sengaja nonton film ini kemarin di FX.

Dan ternyata filmnya oke!

Before I Disappear.jpg

Source : Wikipedia

Saya selalu suka dengan film yang menampilkan sisi romantis dan sedih karena hubungan keluarga atau persahabatan, bukan karena hubungan cinta antara sepasang cewek dan cowok. Dan film ini menampilkan sisi itu.

Film ini dimulai dengan seorang pemuda yang desperate abis dan ingin mengakhiri hidupnya. Tapi di tengah-tengah keputusasaannya itu, dia justru menemukan sesuatu yang berarti yang akan merubah pandangannya ke depan.

 

Film ini adalah film indie yang disutradarai oleh Shawn Christensen, yang juga bermain sebagai aktor utama di film ini. Film ini sendiri ternyata versi panjang dari film pendek ‘Curfew’ tahun 2012 yang sempat memenangkan Academy Awards tahun 2013 untuk kategori Best Short Film Live Action .

Curfew short film poster.png

Source : Wikipedia

Dari sisi cinematografi, karakter, plot, isi cerita, sampai soundtrack film ini oke punya. Banyak quotes yang oke. Sisi ‘dark’ film ini dapat, sisi ‘desperate’nya juga dapat dan tidak berlebihan. Jokesnya juga dapat dan berhasil bikin ketawa. Karakter masing-masing juga kuat, apalagi di film ini ada anak umur 11 tahun yang juga menjadi pemeran utama dan akting si anak juga mampu mengimbangi aktor utamanya.

Source : variety.com

Yang paling saya suka dari film ini adalah adegan antara si pemuda dengan adik perempuannya yang sudah lama tidak ditemuinya. Adiknya membencinya karena hidupnya yang sangat berantakan. Tapi si pemuda ini justru memuji adiknya dengan kata-kata yang pasti bakal bikin mata kalian berkaca-kaca, guys! (T.T)

Di atas sempat saya sebutin kalau di film ini ada anak umur 11 tahun yang juga jadi pemeran utamanya. Apa hubungan si pemuda dengan si anak umur 11 tahun itu? Dan apa yang buat dia tidak jadi mengakiri hidupnya?

You should watch this by yourself 😉

So this film is definitely a-must-to-watch-film

 

Review Film : Pitch Perfect 2 (2015)

Failed.

Source : Google

That’s the only word comes to my mind after watching this movie.

Baru sempat nonton film ini kemarin (after months!). Walaupun telat banget kasih review tapi gpp lah ya hehehe.

Dari segi isi, Pitch Perfect yang pertama masih lebih bagus. Banyak isi cerita yang kurang penting dan tokoh baru yang juga tidak penting di sekuel ini. Hailee Steinfield dan Chrissie Fit misalnya. Tanpa mereka pun semestinya film masih tetap bisa jalan. Alur cerita juga gampang ketebak jadi pas nonton seperti “Not surprise”.

Agak kecewa juga sih. Soalnya saya penggemar Pitch Perfect yang pertama. Saya bahkan menonton film itu berulang kali. Untuk sekuel ini, kayaknya sekali saja sudah cukup.

Sutradara dua film ini juga berbeda, jadi mungkin itu sebabnya sekuelnya tidak mampu menandingi yang pertama. Film pertama disutradarai oleh Jason Moore, sedangkan film kedua disutradari Elizabeth Banks (yang juga berperan sebagai Gail Abernath-McKadden atau si komentator accapela).

Nah, kalau dari segi musik, film ini masih bisa dibilang oke. Meskipun agak aneh saat mendengar lagu Flashlight yang dikatakan sebagai original music dari si anak baru di film ini (Hailee Steinfield). Secara saya nontonnya baru kemarin, jadi sudah lebih dulu dengar lagu Flashlight yang aslinya dinyanyikan Jessie J.

Favorit saya di film ini adalah Das Sound Machine (DSM). Musik dan aransemen mereka keren, jauh lebih keren dari Barden Bellas. Beatbox mereka oke punya. Barden Bellas justru masih stay di konsep mix beberapa lagu seperti di film pertama. Konsep alumni Barden Bellas jadi choir di final perform mereka cukup oke. Meskipun menurut saya DSM masih jauh lebih oke dengan aransemen “I Know What You Did In The Dark” mereka. Dan gampang ketebak, siapa yang jadi juara di akhir kompetisi.

Source : YouTube

Final comment, menurut saya sebaiknya tidak perlu ada Pitch Perfect 3. Soalnya ceritanya bisa jauh lebih maksa dan banyak cerita kurang penting lagi. Kecuali memang si penulis skenario dan sutradaranya mampu membuat cerita yang lebih wah.

So definitely this movie is not a must-to-watch-movie. You can only watch the first movie without curious with the second one.

Review Film : Birdman (2014)

Well, all I can say about this film is WTH?!

Source : Rogerebert

Source : Rogerebert

Film ini bercerita tentang aktor film superhero Birdman yang jaman dulu sangat terkenal. Namun bertahun-tahun sejak film Birdman booming, aktor ini mulai kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak ingin kembali ke dunia film meskipun dirinya sangat terkenal. Aktor tersebut pun mencoba peruntungannya di panggung Broadway. Film ini memperlihatkan konflik batin si aktor yang masih belum bisa move on dari karakter Birdman dan bagaimana usahanya di dalam berkarir di panggung Broadway.

Habis nonton film ini saya jadi bingung, kok bisa ya menang jadi Film Terbaik Oscar?

Menurut saya, film yang bagus adalah film yang ketika sudah masuk credit title, saya bakalan bilang “Wow”. Tapi film ini justru membuat saya “Hah?” dan berkata “Jadi gitu aja?”. Apalagi saya menonton film ini saat Oscar sudah berlangsung. Jadi saya punya ekspektasi yang tinggi terhadap film ini.

Dari segi pengambilan gambar, ya memang film ini bagus. Jadi memang cocok mendapat penghargaan Best Picture (meskipun sebenarnya saya mengandalkan The Grand Budapest Hotel di kategori ini). Pengambilan gambarnya dilakukan dengan one shot dan hanya berpusat pada satu tempat. Para pemainnya juga oke punya, mulai dari Michael Keaton, Edward Norton, Naomi Watts, Zach Galifianakis, sampai Emma Stone. Ending film juga cukup membuat saya bertanya-tanya dan membuyarkan konsep saya tentang tokoh utamanya, dan akhirnya membuat saya pusing dan hanya bisa berkata “JADI INI SEMUA MAKSUDNYA APA?”. Konsep backsoundnya juga keren, karena menampilkan suara gebukan drum dan sekali-kali menampilkan si drummer sendiri.

Source : Film.com

Source : film.com

TAPIIII, sesungguhnya saya tidak mengerti film ini (hiks). Isi dan jalan ceritanya kurang menarik dan kurang bagus menurut saya. Saya bahkan tidak bisa menangkap objek lucu dari film ini, kecuali fakta kalau film ini menyindir aktor film superhero yang sekarang lagi hits-hitsnya di Hollywood. Sekalipun endingnya cukup membuat saya bertanya-tanya, tapi menimbulkan kesan bertanya-tanya yang berbeda ketka saya menonton film-film Nolan. Dan mengingat film ini adalah Film Terbaik Oscar, rasanya gimana ya hmm…

Teman saya bilang, Oscar memang cenderung memilih film terbaik yang bertemakan Hollywood. Jadi ya mungkin wajar saja kalau akhirnya Birdman yang terpilih sebagai pemenang.

Dan, menurut saya film ini bukan a-must-to-watch film. Kecuali otak kamu nyampe untuk menangkap maksud cerita ini atau kamu mau menontonnya berulang kali sampai bisa menangkap maksud ceritanya.

banner-birdman-film_page_np

Source : Godawa

Review Film : Confession (Kokuhaku), Film Thriller Psikologis Jepang

confessions

Source : Google

Kesan pertama saya saat nonton film ini adalah film ini punya backsound yang bagus.

Track lagunya keren-keren. Dan ada satu lagu yang paling sering diputar berulang dalam film, yang tadinya saya pikir itu lagu band Jepang, pas lihat credit title-nya, ternyata lagu itu lagunya Radiohead! Judulnya Last Flowers. Dan lagu ini memang sangat cocok jadi soundtrack film ini, karena baik dari musik maupun lirik lagunya kedengaran sangaaaat depresi. Membuat setiap adegan menjadi semakin miris.

Well, saya menonton film ini atas rekomendasi teman kerja saya, yang kebetulan melihat saya nonton film Crows Zero 3. Katanya ada film Jepang yang bagus banget, ceritanya tentang pembunuhan yang dilakukan oleh anak sekolah. Sampai di rumah, saya download deh filmnya.

Dan, teman kantor saya memang benar. Filmnya bagus banget, mulai dari isi cerita, alur cerita, gambar, efek, soundtrack, sampai akting pemainnya. Film ini bercerita tentang kisah seorang anak SMP yang psikopat dan pembalasan dendam si guru atas perbuatan anak psikopat itu. Kenapa si Guru mau balas dendam? Nonton sendiri aja deeh.

Yang jelas film ini twist banget. Alur ceritanya pun menarik, karena diceritakan dari berbagai sudut pandang tokoh dalam film, jadi kita tidak hanya melihat cerita dari satu pihak saja sehingga penilaian terhadap cerita ini pun ada di penonton sendiri. AKhir filmnya pun cukup twist, membuat kita bertanya-tanya kebenaran endingnya seperti apa. Mirip-mirip ending film Christopher Nolan gitu deh.

Efek darah dalam film pun terasa nyata. Adegan kekerasannya pun cukup menegangkan. Meskipun tokoh-tokoh dalam film kebanyakan anak-anak cuping, tapi film ini kayaknya kurang cocok untuk anak-anak. Pemainnya juga cantik-cantik dan unyu-unyu, jadi pasti betah nontonnya hahahaha. Apalagi aktingnya bagus-bagus semua. Dan anak-anak SMP-nya juga beneran anak SMP, mukanya masih unyu-unyu semua. Tidak seperti film-film Indonesia, anak SMP diperankan sama anak kuliah 😥

confessions2

Source : Google

Film ini sendiri ternyata pernah masuk 9 besar di Oscar, untuk kategori Best Foreign Language Film dan menang sebagai Best Film di Awards of Japanese Academy. Ratingnya di IMDb juga lumayan tinggi, 7.9/10.

Buat orang-orang yang suka nonton film thriller berdarah-darah, nonton aja film ini. Recommended banget. Asal jangan sampai ikut-ikutan aja yaah sama apa yang dilakukan di film ini ahahaha.

Jadi, film ini jelas film a-must-to-watch film.

vlcsnap-233150

Source : Google