sebuah tanya Nicholas Saputra-cahaya bulan OST-GIE

 
 puisi sebuah tanya – Nicholas Saputra :

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan” yg menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau, dekaplah lebih mesra
lebih dekat

apakau kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yang takkan pernah ku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan ku dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

nicholas saputra dalam GIE

nicholas saputra dalam GIE

dapatkan lagunya di sini : http://www.4shared.com/audio/L82E86-T/Ost_Soe_Hok_Gie_-_Nicholas_Sap.htm

Iklan

cahaya bulan OST-GIE

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa matahari terbit menghangatkan bumi

aku orang malam yg membicarakan terang
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi

aku orang malam yg membicarakan terang
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

reff: cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

terangi dengan cinta di gelapku
ketakutan melumpukanku
terangi dengan cinta di sesatku
dimana jawaban itu

repeat reff

dapatkan lagunya di sini : http://www.4shared.com/audio/nZMZeQtG/OST_GIE_-__Cahaya_Bulan.htm

Kepergian Sang Demonstran

Soe Hok Gie,

benar-benar seorang pecinta alam sejati.

dialah yang mendirikan mapala pertama di UI dan Indonesia.

dialah yang menjadi panutan semua pecinta alam di negri ini.

dan menjadi panutan semua mahasiswa dengan idealismenya yang sangat mengagumkan.

soe hok gie

Gie meninggal tanggal 16 Desember 1969 di puncak Mahameru, Gunung Semeru, hanya sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.

[Gie lahir pada tanggal 17 Desember 1942 di Jakarta]

Gie meninggal bersama juniornya di mapala, Idhan Lubis.

saat itu anak mapala UI sedang mengadakan perjalanan mendaki Gunung Semeru. rencanya ini sendiri datang dari Gie, dan sudah dipersiapkan sejak sebulan lalu.

memang sudah ada tanda bahwa dia akan pergi untuk selamanya.

dalam catatan hariannya dia menulis [pada tanggal 8 Desember 1969] bahwa dia ingin berpamitan ke Rina, Maria dan Sunarti [wanita-wanita yang sempat ada affair dengan Gie] sebelum pergi mendaki. meskipun pada kenyataannya dia hanya sempat menemui Sunarti dan sempat berjalan-jalan bersamanya. lalu dia juga menuliskan tentang betapa dia sering memikirkan tentang kematian semenjak dia mendengar dari kakaknya, Arief Budiman, bahwa teman masa kecilnya meninggal.

dan hal itu terbukti.

tanggal 16 Desember dia duduk-duduk di puncak Mahameru bersama Idhan Lubis, menikmati pemandangan Tanah Jawa tertinggi itu.

pada saat itu, Herman, sahabat gie melihat dia sedang duduk dengan gaya khasnya, menyilangkan kakinya sambil menopang dagu.

tidak lama kemudian, Gie seperti orang kesurupan, kejang-kejang, lalu berlari hendak terjun ke jurang.

Herman pun dengan sekuat tenaga menariknya agar tidak terjun. tidak lama berselang, Idhan pun melakukan hal yang sama.

dan tidak lama kemudian, keduanya terbujur kaku.

keduanya meninggal karena terlalu banyak menghirup gas belerang dari debu letupan gunung tersebut[Gunung Semeru adalah gunung berapi yang masih aktif].

mengingat mereka ada di atas gunung, sangat sulit untuk meminta bantuan. dua orang rekan mereka turun ke pemukiman tempat peristirahatan pendaki dan bantuan helikopter pun datang. namun karena kondisi yang sangat tidak memungkinkan helikopter untuk mendarat di sana, maka mereka pun membawa mayat Gie dan Idhan turun. tanggal 22 Desember barulah mereka berhasil membawa mayat keduanya turun. Arief Budiman sendiri yang menjemput mayat Gie di sana.

tanggal 24 Desember Gie disemayamkan di FSUI [Fakultas Sastra UI, tempat Gie menghabiskan hampir seluruh waktunya selama kuliah maupun setelah sarjana, yang telah dianggapnya sebagai rumah keduanya.]

kakaknya,Arief, pula yang memesankan peti mati untuk Sang Legenda Mahasiswa, Gie. pada saat si tukang peti tahu untuk siapa peti itu dipesan, tukang peti itu pun menangis. “dia orang yang berani” katanya.

begitu pun dengan pilot pesawat yang membawa mayat Gie ke Jakarta. dia pun menangisi kepergian Gie.

Gie sempat dimakamkan di Kuburan Tanah Abang I, sebelum akhirnya keluarganya sepakat untuk membakar mayatnya dan menaburkan abunya yang sangat berharga di Puncak Gunung Pangrango, Jawa Barat.

dan sampai saat ini, untuk mengenang Soe Hok Gie dan Idhan Lubis,

terdapat tugu memoriam mereka di Mahameru.

dan setiap tahunnya Mapala UI mengadakan ekspedisi mengenang Gie yang diadakan pada bulan Desember.

tugu mengenang Soe Hok Gie dan Idhan Lubis di Puncak Mahameru

QUOTES

“lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”

“sebenarnya antara kita tidak ada apa-apa. dunia kita tidak berkaitan satu dengan yang lainnya” [10 September 1967]

makam gie

“aku memutuskan untuk berdemonstrasi. karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”

“nobody knows the trouble i see, nobody knows my sorrow”

“tiada yang lebih puitis daripada berbicara tentang kebenaran”

“seorang yang intelektual adalah seorang yang berjuang sendiri”

“nasib terbaik adalah tidak dilahirkan,

yang kedua dilahirkan tapi mati muda,dan

yang tersial adalah umur tua,

rasa-rasanya memang begitu,

bahagialah mereka yang mati muda” [22 Januari 1962]

“aku kira ada yang disebut cinta yang suci. tapi itu cemar bila kawin. aku pun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu” [27 Mei 1960]

“karena bagi saya love selalu berarti respect” [30 April 1969]

“kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. karena itulah kami naik gunung.” [menaklukan Gunung Slamet, dalam Kompas, 14 September 1967]

SOE HOK GIE [11 NOVEMBER 1969]

ADA ORANG YANG MENGHABISKAN WAKTUNYA BERZIARAH KE MEKKAH

ADA ORANG YANG MENGHABISKAN WAKTUNYA BERJUDI DI MIRAZA

TAPI AKU INGIN HABISKAN WAKTUKU DI SISIMU,SAYANGK

BICARA TENTANG ANJING-ANJING KITA YANG NAKAL DAN LUCU

ATAU TENTANG BUNGA-BUNGA YANG MANIS DI LEMBAH MENDALAWANGI

ADA SERDADU-SERDADU AMERIKA YANG MATI KENA BOM DI DANANG

ADA BAYI-BAYI YANG MATI LAPAR DI BIAFRA

TAPI AKU INGIN MATI DI SISIMU, MANISKU

SETELAH KITA BOSAN HIDUP DAN TERUS BERTANYA-TANYA

TENTANG TUJUAN HIDUP YANG TAK SATU SETAN PUN TAHU

MARI SINI SAYANGKU

KALIAN YANG PERNAH MESRA, YANG PERNAH BAIK DAN SIMPATI PADAKU

TEGAKLAH KE LANGIT LUAS ATAU AWAN YANG MENDUNG

KITA TAK PERNAH MENANAMKAN APA-APA

KITA TAK KAN PERNAH KEHILANGAN APA-APA

SEBUAH TANYA-SOE HOK GIE [SELASA, 1 APRIL 1969]

AKHIRNYA SEMUA AKAN TIBA,
PADA SUATU HARI YANG BIASA,
PADA SUATU KETIKA YANG TELAH LAMA KITA KETAHUI,

APAKAH KAU MASIH BERBICARA SELEMBUT DAHULU,
MEMINTAKU MEMINUM SUSU DAN TIDUR YANG LELAP?
SAMBILMEMBENARKAN LETAK LEHER KEMEJA KU,

(KABUT TIPIS PUN TURUN PELAN-PELAN
DI LEMBAH MENDALAWANGI
KAU DAN AKU TEGAK BERDIRI
MELIHAT HUTAN-HUTAN YANG MENJADI SURAM
MERESAPI BELAIAN ANGIN YANG MENJADI DINGIN)

APAKAH KAU MASIH MEMBELAIKU SEMESRA DAHULU,
KETIKA KU DEKAP KAU,
DEKAPLAH LEBIH MESRA, LEBIH DEKAT,

(LAMPU-LAMPU BERKELIPAN DI JAKARTA YANG SEPI
KOTA KITA BERDUA YANG TUA DAN TERLENA DALAM MIMPI-MIMPINYA,
KAU DAN AKU BERBICARA,
TANPA KATA, TANPA SUARA,
KETIKA MALAM YANG BASAH MENYELIMUTI JAKARTA KITA)

APAKAH KAU MASIH AKAN BERKATA,
KU DENGAR DERAP JANTUNGMU,
KITABEGITU BERBEDA DALAM SEMUA,
KECU
ALI DALAM CINTA,

(HARI PUN MENJADI MALAM
KU LIHAT SEMUANYA MENJADI MURAM
WAJAH-WAJAH YANG TIDAK KITA KENAL BERBICARA
DALAM BAHASA YANG KITA TIDAK MENGERTI
SEPERTI KABUT PAGI ITU)

MANISKU,
AKU AKAN JALAN TERUS,
MEMBAWA KENANGAN-KENANGAN DAN HARAPAN-HARAPAN,
BERSAMA HIDUP YANG BEGITU BIRU