Aslinya Fort Rotterdam

Selama ini, karena namanya Benteng Fort Rotterdam, saya selalu mengira kalau benteng ini dibangun oleh Belanda pada masa penjajahan. Setelah membaca satu artikel mengenai sejarah Benteng Fort Rotterdam di historia.id, saya baru tahu kalau ternyata benteng ini dibangun oleh rakyat Makassar sendiri tahun 1545 pada masa Raja Gowa Ke – 9, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna, dan diberi nama Benteng Ujung Pandang.

Source : Pattingaloang

Saat terjadi perseteruan antara Sultan Alauddin dan VOC terkait dilarangnya masuk pedagang dari Makassar ke Malaka pada tahun 1615, kantor perwakilan VOC di Makassar ditutup. Benteng-benteng yang ada di pesisir Makassar diperkuat. Sebanyak 8 benteng pertahanan dibangun pada saat itu. Benteng Tallo, Benteng Panakkukang, Benteng Ujung Pandang, Benteng Barokbaso, Benteng Barombong, Benteng Garasi, Benteng Mariso, dan Benteng Ujung Tanah.

Berpuluh-puluh tahun setelahnya, pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (cucu dari Sultan Alauddin), Perang Makassar pecah (1666-1667) dan kemudian diakhiri dengan penandatanganan Perjanjian Bongaya. Perjanjian ini sendiri sebenarnya adalah deklarasi kekalahan Kerajaan Gowa-Tallo, yang mana isi perjanjiannya sangat merugikan pihak kerajaan. Salah satu akibat dari perjanjian tersebut adalah dihancurkannya semua benteng kecuali Benteng Ujung Pandang.

 

Saat VOC berhasil menduduki Makassar, Gubernur Jenderal VOC bernama Laksamana Cornelis Speelman mengambil alih Benteng Ujung Pandang dan mengubah namanya menjadi Benteng Fort Rotterdam, diambil dari nama kota kelahiran Sang Jenderal. Kembali dilakukan pembangunan pada benteng ini yang mana bangunannya masih bisa kita lihat sampai sekarang.

fort-rotterdam-dari-atas.jpg

Source : Google

rotterdam.jpg

Source : Google

Jadi sebenarnya salah kalau ada yang bilang benteng ini benteng peninggalan Belanda. Menurut kalian, bagusan mana, namanya kembali menjadi Benteng Ujung Pandang atau tetap menjadi Benteng Fort Rotterdam?


Link artikel Di Balik Fort Rotterdam

 

I Have A Dream (Terjemahan Bahasa Indonesia)

1-19-Martin-Luther-King-ftr

*Diterjemahkan oleh Fofo’usö

Oleh: Martin Luther King Jr.

Seratus tahun yang lalu, seorang Amerika yang hebat, yang di bawah bayangan simbolisnya kita berdiri menandatangani Proklamasi Emansipasi. Pernyataan bersejarah ini datang sebagai cahaya mercu suar harapan kepada jutaan budak orang Negro yang telah gosong oleh api ketidakadilan yang menghinakan. Pernyataan itu datang sebagai fajar sukacita yang mengakhiri malam panjang penawanan.

Namun seratus tahun kemudian, kita harus menghadapi fakta tragis bahwa orang-orang Negro masih belum merdeka. Seratus tahun kemudian, kehidupan orang-orang Negro masih saja dilumpuhkan oleh borgol pemisah-misahan serta rantai diskriminasi. Seratus tahun kemudian, orang-orang Negro tinggal di sebuah pulau kemiskinan yang sepi di tengah lautan kemakmuran materi yang luas.

Seratus tahun kemudian, orang-orang Negro masih saja merana di pojok-pojok komunitas Amerika dan mendapati dirinya sebagai seorang terasing di tanahnya sendiri. Jadi kita datang ke sini hari ini untuk menampilkan sebuah kondisi yang memilukan. Dalam artian kita telah datang ke ibu kota negara kita untuk menguangkan selembar cek. Ketika para arsitek republik kita merumuskan kata-kata dari Undang-Undang [Konstitusi] dan deklarasi Kemerdekaan, mereka mendadatangani sebuah surat yang berisi perjanjian yang padanya setiap orang Amerika menjadi pewaris.

Surat ini merupakan sebuah perjanjian bahwa semua orang akan dijamin hak-hak kehidupan, kebebasan, serta pencarian kebahagiaannya yang tak dapat disangkal. Hari ini nyata bahwa Amerika telah gagal berkenaan dengan surat perjanjian ini sejauh terkait dengan warna kulit warga negaranya. Ketimbang menghormati kewajiban suci ini, Amerika telah memberikan cek kosong yang telah dikembalikan bertuliskan “dana tidak cukup.”

Baca lebih lanjut

The Real Alchemist! (Just Like in Harry Potter)

And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Beberapa bulan lalu saya membaca sebuah buku berjudul “The Alchemist” karya Paulo Coelho. Buku ini direkomendasikan oleh ma chère, yang katanya penuh inspirasi. Benar, buku ini sangat menginspirasi. Ada banyak quotes yang membangkitkan semangat dan menyadarkan kita akan sesuatu. Buku ini bercerita tentang seorang pemuda penggembala yang sedang mencari harta karun. Di pertengahan jalan, dia bertemu dengan seorang Alkemis (Ahli Alkimia) yang mampu mengubah logam menjadi emas. Orang-orang menganggapnya penyihir, karena mampu menyembuhkan segala penyakit. Kisah perjalanannya sungguh inspiratif. Namun, saat mendekati akhir cerita, ada beberapa hal yang membuat saya bingung. Seperti saat si pemuda penggembala mampu berbicara kepada angin dan matahari, yang menurut saya tidak masuk akal. Seketika, saya meragukan novel ini saat akan berakhir.

250px-The_Alchemist

Source : Wikipedia

Beberapa hari yang lalu, saya kembali membaca buku Harry Potter and The Philosopher’s Stone. Dalam buku pertama Harry Potter ini juga diceritakan mengenai seorang Alkemis bernama Nicolas Flamel, sahabat Professor Dumbledore yang mempunyai Batu Bertuah yang mampu mengubah logam menjadi emas dan membuat Cairan Kehidupan yang mampu membuat seseorang hidup kekal. Setelah selesai membaca buku ini, pikiran saya kembali melayang ke buku The Alchemist. Karena ada satu persamaan mengenai buku ini. Bahwa Sang Alkemis mampu mengubah logam menjadi emas.

Saya pun iseng googling mengenai Alkimia. Saya memilih rujukan Wikipedia sebagai pertimbangan bahwa Wikipedia mungkin sumber yang lebih bisa dipercaya. Setelah membaca hampir keseluruhan artikel, saya kemudian menyesal telah menjudge buku The Alchemist. Ternyata, itu hanya karena saya tidak memahami apa sebenarnya Alkimia itu. Alkimia adalah protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika, astrologi, seni, semiotika, metalurgikedokteran, mistisisme, dan agama seperti yang ditulis dalam Wikipedia. Fokus Alkimia memang untuk menemukan batu filosof yang mampu mengubah logam menjadi emas dan panacea universal, ramuan atau obat yang mampu menyembuhkan segala penyakit dan memperpanjang umur. Alkimia pada zaman dahulu juga sering dikaitkan dengan sihir karena mengandung mistisme. Dikatakan, bahwa Alkemis juga memiliki ketertarikan pada bahasa yang penuh sandi dan perlambangan. Itulah sebabnya di buku “The Alchemist” sang penulis menceritakan kemampuan si pemuda penggembala yang mampu berbicara pada angin dan matahari dan mampu melihat pertanda-pertanda yang dibahasakan oleh alam. Sungguh luar biasa.

Ada satu hal yang sangat menarik yang saya temukan dalam artikel Alkimia ini. Ada nama Nicolas Flames di dalamnya. Saya sempat terperanjat mendapati fakta kalau Nicolas Flamel, tokoh fiksi dalam buku Harry Potter, ternyata adalah manusia sungguhan yang pernah hidup di dunia. Hanya saja, dia tidak hidup sampai berumur enam ratus tahun seperti di buku Harry Potter. Nicolas Flamel, yang hidup tahun 1330 sampai dengan tahun 1417, juga seorang Alkemis sekaligus Ahli Geodesi. Penemuan terbesarnya adalah probabilitas pengubahan material menjadi emas. Dia pernah menjadi Dekan Fakultas Teknik Universitas Paris, Dekan Sekolah Farmasi Universitas Paris, Rektor Universitas Paris, Menteri Pendidikan Kerajaan Prancis, Walikota Roma, Duta Besar Prancis untuk Vatikan dan masih banyak lagi.

Source : Google

Source : Google

Yang lebih membuat saya terkejut sekaligus senang adalah mengetahui fakta lainnya, bahwa istri dari Nicolas Flamel adalah Dr. Helga Hufflepuff! Yeah! Kalau kamu penggemar sejati Harry Potter (seperti saya!) kamu pasti tahu siapa Helga Hufflepuff itu. Hufflepuff adalah penyihir besar dan salah satu pendiri Sekolah Sihir Hogwarts, dan namanya diabadikan menjadi nama salah satu asrama di Hogwarts.

Brilian sekali J.K Rowling ini. Saya pertama kali mendengar tentang Batu Bertuah (Philosopher’s Stone atau Batu Filosof) dan Nicolas Flamel dari Harry Potter. Saya tidak pernah menyangka kalau Nicolas Flamel (bahkan Helga Hufflepuff) adalah manusia sungguhan, bukan hanya sekedar tokoh fiksi. Saya pernah membaca sinopsis salah satu buku fiksi sejenis Harry Potter berjudul Nicolas Flamel and blablabla (saya lupa judul lengkapnya) di Gramedia. Dalam buku itu si penulis menerangkan bahwa kita pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Nicolas Flamel karena dia merupakan tokoh dalam seri Harry Potter.

Bahkan orang lain pun hanya mengenal namanya lewat buku Harry Potter. Padahal, dia adalah seorang Alkemis terkenal di dunia dan bahkan seorang pejabat di zamannya. Rasanya tidak sia-sia saya menghabiskan masa kecil dan remaja saya dengan membaca buku Harry Potter. Karena ada pengetahuan terkandung di dalamnya, bukan hanya sekedar fiksi belaka. Memanglah pantas kalau J.K Rowling menjadi orang pertama yang menjadi kaya raya hanya dengan menulis buku. Rowling sepertinya punya pengetahuan yang luas mengenai banyak hal. Lihat saja bagaimana dia menamai semua tokoh, benda-benda, mantra dan lainnya dalam bukunya.

Karena itu, rajin-rajinlah membaca. Membaca buku atau artikel apapun. Bahkan dalam buku fiksi sekalipun, kamu pasti akan menemukan pengetahuan. Ada banyak ilmu tercampur didalamnya kalau kamu teliti dan kalau kamu mau meluangkan sedikit waktu untuk sekedar mencari tahu sesuatu yang membuatmu penasaran dalam buku tersebut. Dengan membaca kamu akan tahu betapa luar biasanya dunia ini 😉

Adopt The Orangutan

Yesterday, I got email from Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, that I am officially become an adoptive parent from one of the orangutans in their program for a month! And I feel so excited and very happy, because this is my first time contribute to something like this. I mean, I always want to contribute to something like saving not only human race but also the other creatures in the world. Sort of activist activities..

And yes. BOS Foundation has an adoption program, which you can adopt orangutans by give donation to them. Most of them have hard time before they came to the conservation in Kalimantan. There are several orangutans that you can adopt, and my choice falls to Sura. He lost his mother and his three fingers, he has beautiful eyelashes (although he is a male) and I feel like “Oh my God, how lovely you are”.

Adopt here doesn’t like adopt in real meaning. Like adopt cat or dog. You can’t take the orangutans out, because keep orangutans is against law. But you give your donation, so the orangutan can have a better life until they can be released to their habitat. There are  three pacakges of donation you can choose based on duration, like a month, six months until a year. As long as your donation package, you will receive email from BOS Foundation about their progress.

I choose a month package, because that is the only package I can afford hehehe. But that is okay. Maybe someday I can donate longer than that.

And this is Sura ❤

sura-1He is 4 months. His cut fingers seems caused by sharp things like machetes or knife in horrible way. On the first month in conservation he was unstable and sick. But now he is much better. He loves forest fruit and leaflet, and he actives playing with the other orangutans.

I am so proud to be his adoptive parent. And I am so glad that I can contribute to this program.

You will receive this if you contribute to this program.

orangutan

I believe, God create us to keep our Earth in balance, or I can say, God create us as khalifah. So it’s your choice, do you want to be a khalifah, destroyer, or the careless one? (I am sounds like an activist now hahaha)

If you want to know more about orangutan, or about the program, or even contribute to adopt orangutan, you can visit BOS Foundation website.

Tomorrow is V- Day! Halo Para Perempuan, Mari Kita Drum, Dance and Rise!

Besok adalah Hari Valentine, yang terkenal sebagai hari kasih sayang. Namun setelah kemarin saya membaca sebuah artikel Gender di BaKTINews yang ditulis oleh Dewi Candraningrum, (Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan), saya kemudian mengenal tanggal 14 Februari sebagai hari yang lain, yaitu hari bangkitnya revolusi melawan kekerasan terhadap perempuan. Sebagaimana biasanya, isu gender selalu menitikberatkan pada persoalan hak-hak perempuan.

Artikel ini membahas mulai dari One-Child Policy di China sampai persoalan budaya di India. Di Asia, isu gender masih cukup keras. Beberapa negara dengan budaya mereka masih percaya bahwa anak laki-laki adalah berkah dan pembawa keuntungan, sementara anak perempuan hanya membawa beban. Saya sudah sangat sering mendengar tentang isu gender dan masalah kebijakan yang ada di China. Tapi saya baru tahu kalau ternyata di India, anak perempuan juga dianggap begitu rendahnya sehingga banyak ibu yang memilih untuk mengaborsi anak mereka jika ketahuan bahwa bayi dalam perutnya adalah perempuan. Baca lebih lanjut