UN

“Lo mau nggak jadi pacar gue?”

Tiara mengangkat alis memandangi cowok yang duduk di hadapannya. Kaget mendengar pertanyaannya barusan. Tiara terus memandanginya seolah mencari celah kalau pertanyaan barusan hanyalah candaan. Tapi wajah cowok di hadapannya tidak berubah menjadi seringai tawa atau senyum mengejek. Cowok itu masih tetap dengan wajah seriusnya seperti saat dia melontarkan pertanyaan tadi.

“Kok nanya gitu sih?” kata Tiara akhirnya. Dia tidak tahu harus berkata apa.

Cowok itu menunduk tersenyum. Lesung pipinya terlihat jelas di pipi kanannya.

“Iya, gue nanya gitu soalnya gue suka sama lo,” kata cowok itu kembali menatap Tiara.

Tiara jadi salah tingkah. Dia nggak tahu harus membalas apa, jadi dia memilih diam.

“Jadi gimana? Mau nggak jadi pacar gue?” tanya cowok itu lagi, mengangkat sebelah alisnya.

Terus terang, Tiara nggak punya perasaan apa-apa sama cowok itu. Sama sekali nggak ada. Bukan karena cowok itu jelek. Nggak. Cowok ini sama sekali nggak jelek. Dia malah cowok paling cakep diantara semua temannya. Cowok ini berkulit putih, dagunya terbelah, bodinya oke, punya lesung pipi lagi. Tiara hanya belum bisa move on dari kisah cintanya yang dulu. Dia mau jalan dengan cowok ini hari ini nggak lebih karena cowok ini sahabat kakaknya, hanya sekedar itu.

Tiba-tiba Tiara teringat obrolannya dengan kakaknya minggu lalu. Pantesan waktu itu kakaknya sempat nanya-nanya hal ‘aneh’ ke Tiara. Kakaknya nanya gimana kalau seandainya ada temannya yang suka sama dia. Tiara malas banget jawab pertanyaan private kayak gitu, apalagi sama kakaknya sendiri. Emang sih, Tiara sama kakaknya hanya beda sepuluh bulan. Mereka berdua masuk sekolahnya bersamaan, makanya mereka berdua seangkatan. Selalu dikirain anak kembar padahal nggak. Tapi, tetap aja, yang namanya bicara soal perasaan ke kakak cowok itu rasanya awkward banget.

“Iya, gue mau,” jawab Tiara akhirnya.

Wajah cowok itu langsung berseri-seri mendengar jawaban Tiara. Saking senangnya, dia sampai mengacak-acak rambut Tiara.

“Makasih, Ra,” katanya, tersenyum bahagia ke Tiara.

Tiara membalas senyumnya sambil merapikan rambutnya.

***

Hari Senin itu ibarat mesin pemusnah kebahagiaan. Di saat kita udah bahagia banget dengan hari libur yang menyenangkan, tiba-tiba kita harus dihadapkan dengan kenyataan pahit di hari Senin, rutinitas! Seperti hari ini, Tiara dengan langkah gontai berjalan menyusuri koridor fakultasnya, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Lama kelamaan kuliah semakin membosankan, kampus semakin tampak menyebalkan. Sekarang Tiara udah semester enam dan semakin hari dia semakin malas masuk kelas. Tiara selalu merasa dirinya salah masuk jurusan. Kadang dia merasa dirinyalah orang paling bodoh di kelas. Sama seperti yang dirasakan sahabatnya sejak SMA, Kaila dan sahabatnya sejak mulai awal kuliah, Annisa.

Tiara menghampiri Kaila dan Annisa yang lagi asyik duduk di taman FKM. Mereka bertiga memutuskan untuk bolos kuliah.

“Tiaraaa!!!” seru Kaila begitu melihat Tiara.

“Heboh banget sih lo,” kata Tiara begitu sampai.

“Hehehe. Habisnya lo kayak kehabisan darah gitu, jalannya lemas banget,” kata Kaila.

“Capek gue naik angkot sejam,” kata Tiara, duduk di antara Kaila dan Annisa.

“Lho, kok lo nggak pergi bareng Eran?” tanya Annisa.

“Gue lagi menghindar dari dia,” jawab Tiara.

“Hah? Kok menghindar dari kakak sendiri sih?” tanya Kaila heran.

Tiara menarik nafas. Dia lalu menatap Kaila dan Annisa bergantian.

“Gue jadian sama Adit,” kata Tiara.

“Adit?” ulang Annisa.

Tiara mengangguk.

“Adit siapa?” tanya Annisa mengerutkan kening.

“Ya ampun! Jangan bilang Adit teman gengnya Eran?!” seru Kaila, spontan menepuk lengan Tiara.

“Iya, Adit yang itu,” jawab Tiara, mengelus lengannya yang ditepuk Kaila.

“OMG! Tiaraaaa!!! Lo jadian sama Adit! Ya ampuun!!!” seru Kaila udah kayak orang lagi orasi.

“Adit siapa sih?” tanya Annisa penasaran.

Sebelum Tiara menjawab, Kaila udah lebih dulu menjawab pertanyaan Annisa.

“Adit itu teman SMA gue sama Tiara, Nis. Dia segeng sama Eran waktu SMA,” jelas Kaila, “Eh, sampe sekarang masih segeng sih ya? Adit juga anak Ekonomi, kan?”

Tiara mengangguk, “Iya, sekelas lagi sama Eran. Sama-sama jurusan Manajemen,”

“Cieeee, pacar baru,” kata Annisa, menyenggol Tiara.

“Gimana ceritanya sih lo bisa jadian sama Adit? Emang lo kapan dekatnya?” tanya Kaila excited.

“Dia emang sering smsin gue, trus sering chat di LINE juga. Terus kemarin dia ngajakin gue nonton. Yaudah gue sih oke-oke aja, ditraktir pula, siapa nggak mau, kan? Tau-tau pas kita lagi makan, dia nembak gue,” cerita Tiara.

“Cieeeeee,” seru Kaila, “Jadi sekarang udah bisa move on dari Hilman, nih?”

Tiara tersenyum kecut. Dalam hati dia berharap demikian.

“Penasaran gue sama Adit. Lo punya fotonya nggak, Ra?” tanya Annisa.

“Nggak adaaa,” kata Tiara, tiba-tiba teringat, “Liat di foto LINE dia aja deh,”

Tiara lalu membuka hpnya dan mengecek LINE miliknya. Dia menggulir layar hpnya sampai menemukan nama Muhammad Aditya Sadewa di kontak LINE.

“Tuh orangnya,” kata Tiara, menyerahkan hpnya ke Annisa.

Annisa memandangi fotonya dengan cermat.

“Cakep yah?” celutuknya, “Atau cakepnya difoto doang?”

“Hahahah. Aslinya juga cakep kali, Nis,” kata Kaila, “Eh, gue jadi ingat. Perasaan dari SMA Adit emang suka sama lo deh, Ra,”

Tiara mengangkat alis, “Masa sih?”

“Iyaa. Lo ingat nggak sih dulu kalau lo lewat di depan Eran and the gang, mereka selalu heboh trus ujung-ujungnya kalau nggak Adit didorong, dipelukin, rambutnya diberantakin sama mereka. Tapi waktu itu lo lagi pacaran sama Bobby. Ingat nggak sih lo?” kata Kaila.

Tiara kembali mengingatnya, “Iya yah, Kai?”

“Eh, Ra, ada pemberitahuan twitter lo nih,” kata Annisa, menyerahkan hp Tiara.

Tiara mengambil hpnya dan membuka twitternya. Ada mention baru. Begitu dibacanya, Tiara langsung menghela nafas panjang.

Pangeran Imran Abdillah @eranIA

Cieeee, yang udah JADIAN @tiarakinaras @adityasadewa :* langgeng yah! awas kalo putus, gw tabokin lo, dit! Jgn lupa traktirannya!

                                                           

Kaila dan Annisa tertawa membaca mention dari kakak Tiara itu. Sementara Tiara nggak ada niat buat membalas mention tersebut.

“Pasti Adit udah cerita nih sama Eran,” kata Tiara, menghela nafas.

***

“Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan kasus Tuberkulosis tertinggi di dunia. Apa yang menyebabkan Indonesia memiliki kasus TB yang tinggi? Disinilah peran kita….”

Tiara tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan perkataan dosennya. Dia ngantuk banget. Wajar aja sih, sekarang memang jam tidur siang. Siapa yang nggak ngantuk jam dua siang duduk dalam kelas mendengarkan materi kuliah dari dosen yang suaranya sayup-sayup?

Tiba-tiba Tiara merasa ada yang bergetar dari dalam tasnya. Tiara merogoh tasnya dan menemukan hpnya bergetar. Ada panggilan masuk. Tiara berjalan pelan keluar dari kelas.

“Halo,” sapa Tiara begitu sudah di luar kelas.

“Tiara, lo dimana?” tanya orang di telefon.

“Di kampus,” jawab Tiara, “Ini siapa?”

“Ini gue, Didot,” kata orang di telefon, “Lo bisa kesini nggak?”

“Kemana?” tanya Tiara.

“Ke markas. Hilman parah banget lukanya, men. Dia nggak mau dibawa ke rumah sakit. Gue nggak tahu mau gimana lagi. Anak-anak juga udah nyerah bujuk dia. Plis, Tiara, lo kesini bujuk Hilman. Parah banget dia, parah! Kepalanya habis kena balok. Gue takut dia semaput,”

“Tapi gue lagi kuliah,”

“Plis, Tiara, plis…”

Tiara menghela nafas. Dia melayangkan pandangan ke sekeliling fakultasnya. Dia bisa aja langsung menutup telefon dan kembali masuk ke kelas seolah dia tidak pernah menerima telefon dari siapa pun. Tapi rasanya ada yang mengganjal.

“Yaudah, tunggu gue,” kata Tiara akhirnya.

Terdengar helaan nafas lega di seberang, “Makasih banyak, Ra. Secepatnya kalau bisa lo datang,”

“Iya, iya,” kata Tiara, lalu menutup telefon.

Tiara lalu mengsms Kaila, menyuruhnya membawa keluar dompet miliknya. Semenit kemudian, Kaila muncul dari dalam kelas.

“Mau ngapain lo?” tanya Kaila.

“Gue mau ke Hilman. Tadi Didot nelfon gue, katanya kepala Hilman kena balok. Udah yah, gue pergi. Tas gue titip di lo yah, Kai,” jawab Tiara, berjalan cepat meninggalkan Kaila yang masih menatapnya tidak percaya.

Tiara naik angkot lumayan lama. Jarak antara kampus ke markas yang dimaksud Didot tadi memang lumayan jauh. Hampir samalah dengan jarak antara kampus dan rumah Tiara. Turun dari angkot, Tiara masih harus berjalan kaki sebentar untuk sampai ke markas. Tiga menit jalan kaki, akhirnya Tiara sampai di satu rumah minimalis tingkat dua yang halamannya udah penuh sama motor dan dua mobil terparkir di depan rumah.

Tiara melangkah memasuki rumah. Pintu depannya terbuka lebar. Ada banyak orang di dalam. Semuanya laki-laki. Ada sekitar tiga puluhan. Mukanya semua seram-seram. Gayanya berantakan. Nggak sedikit yang luka sampai berdarah. Seorang cowok bertubuh besar dan botak lalu menghampirinya.

“Tiara!” sapa cowok itu.

“Didot,” balas Tiara, “Hilman mana?”

“Ada di kamar,” kata Didot, lalu mengawal Tiara masuk ke salah satu kamar.

Seorang cowok kurus dengan rambut berantakan, matanya bengkak dan merah, bajunya kotor, kepala juga mukanya bersimbah darah terbaring di atas tempat tidur. Tiara menahan nafas melihatnya. Dia segera menghampiri Hilman.

“Hilman,” kata Tiara dengan suara pelan.

Hilman menatapnya dengan matanya yang merah dan bengkak, di pelipisnya ada darah.

“Ke rumah sakit, yah?” ajak Tiara dengan wajah khawatir.

“Ngapain kamu disini?” tanya Hilman dengan suara serak yang udah hampir hilang.

“Aku mau bawa kamu ke rumah sakit,” jawab Tiara.

“Nggak usah!” kata Hilman.

“Kamu nggak ngerasa sakit?” tanya Tiara.

“Bukan urusan kalian semua gue sakit atau nggak!” teriak Hilman, meskipun suaranya udah hampir hilang.

“Man, lo jangan gitu, Man,” kata Didot dengan wajah murung.

“Gue nggak kenapa-napa!” kata Hilman.

“Kalau lo mati, siapa yang jadi pemimpin kita nanti?!” teriak Didot.

Tiara tersentak kaget mendengar teriakan Didot. Begitu pun dengan dua orang lainnya yang ada di ruangan itu. Kedua orang ini juga sama berantakannya seperti yang lain dengan luka-luka lebam di wajah mereka.

Hilman diam tidak bereaksi dengan teriakan Didot barusan. Dia malah meringkuk di atas tempat tidur. Semua orang menatapnya sedih.

“Tinggalin gue sama Tiara berdua disini,” kata Hilman akhirnya.

Kedua orang yang sejak tadi diam lalu beranjak meninggalkan kamar bersama Didot. Sebelum keluar kamar, Didot menatap penuh harap ke Tiara. Sekarang hanya ada Tiara dan Hilman di kamar. Tiara memandangi tiap inci dari Hilman. Inilah sosok orang yang disayanginya. Cowok berandalan. Pemimpin geng yang hobinya berkelahi nggak jelas dengan geng lain. Selalu merasa dirinya hebat kalau berhasil menang dalam perkelahian.

“Kamu kesini pasti terpaksa, kan?” tanya Hilman, suaranya timbul tenggelam.

Tiara tersenyum sedih, “Aku kesini karena aku pengen lihat kamu baik,”

“Aku baik,” tandas Hilman.

“Nggak. Kamu nggak sedang dalam keadaan baik, Man. Lihat deh diri kamu di cermin. Kamu penuh darah, Man. Kepala kamu berdarah,” kata Tiara sedih.

Tiara udah sering melihat Hilman dalam keadaan penuh luka dan darah. Tapi baru kali ini dia melihat Hilman separah ini.

“Kamu jangan egois. Di luar, semua teman kamu sedih. Sedih lihat kamu kayak gini,” lanjut Tiara.

“Aku kalah,” kata Hilman, “Nggak ada gunanya lagi aku jadi pemimpin mereka kalau aku kalah,”

Tiara meraih tangan Hilman, “Nggak masalah kamu kalah. Geng ini bukan hanya soal menang atau kalah saat berkelahi, kan? Tapi ini soal kebersamaan. Mereka selalu pengen sama kamu, itu aja. Nggak ada yang peduli meskipun kamu kalah,”

Hilman menatap Tiara lagi. Matanya yang bengkak udah hampir tertutup. Kepalanya memang sakit banget. Dia pusing berat. Dia hanya tidak ingin terlihat lemah di depan teman-teman gengnya. Karena dia seorang pemimpin. Menurutnya, seorang pemimpin haruslah menjadi yang terkuat, bukan yang lemah hanya karena kena pukulan balok kayu di kepala.

“Kamu temani aku sampai rumah sakit,” kata Hilman akhirnya.

Tiara langsung tersenyum lega, “Iya, pasti aku temenin,”

“Panggilin Didot kalau gitu,” kata Hilman lemas.

Tiara segera keluar memanggil Didot. Semua orang langsung berhamburan. Ada yang memanaskan mesin mobil, ada yang ikut memapah Hilman sampai ke mobil. Akhirnya, Hilman dibawa ke rumah sakit. Didot menyetir mobil sementara Tiara memangku Hilman yang tidur berbaring di jok belakang. Satu dari dua orang yang tadi ada di dalam kamar ikut menemani Didot.

Sampai di rumah sakit, Hilman langsung dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Tiara, Didot dan seorang lagi menunggu di luar selagi Hilman ditangani dokter. Didot lalu mengurus administrasi untuk Hilman. Setelah menunggu beberapa saat, kepala Hilman ternyata harus diperiksa lewat CT Scan. Lagi-lagi pihak administrasi memanggil Didot.

“Bayarannya mahal banget,” kata Didot saat kembali ke Tiara dan satu cowok itu.

“Berapa?” tanya si cowok yang sejak tadi diam.

Didot lalu menyebutkan sejumlah angka.

“Pake punya gue aja dulu,” kata cowok itu, lalu mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.

“Temenin gue kesana deh,” kata Didot dan mereka berdua pun kembali ke administrasi.

Setelah mengurus semuanya, mereka berdua lalu kembali ke tempat Tiara menunggu di depan pintu UGD.

“Makasih, ya, Tiara,” kata Didot, berdiri di sebelah Tiara.

Tiara tersenyum.

“Gue tahu nggak seharusnya gue minta tolong sama lo. Makasih banget lo masih mau peduli sama Hilman,” kata Didot lagi.

Tiara lagi-lagi hanya tersenyum.

“Kalian habis berkelahi sama siapa sih?” tanya Tiara.

“Biasa, sama anak The Bones,” jawab Didot.

“Tadi ngeri banget. Gue sampai nggak bisa bergerak pas lihat Hilman dihantam balok sama Ryan,” kata cowok yang ikut menemani itu.

“Keras banget yah, Bim?” tanya Tiara, menatap cowok itu.

“Keras banget, Ra. Bunyinya keras banget. Hilman sampai nggak bangun-bangun lagi. Gue pikir tadi dia udah mati,” kata cowok itu.

“Jangan bilang gitu, Bima,” tegur Didot, “Tapi untung dia masih sadar. Gue akui tuh anak punya fisik kuat banget,”

Tiara terdiam menyimak percakapan antara Didot dan Bima. Rasanya udah cukup lama dia tidak mendengar percakapan semacam ini. Biasanya setiap habis berkelahi, Hilman pasti akan menceritakan keseruan perkelahian mereka ke Tiara. Sejak pertama kali kenal Hilman, Tiara sudah tahu dia berandal. Meskipun berandalan, tapi Hilman selalu memperlakukan Tiara dengan baik. Itu yang bikin Tiara suka sama dia. Mereka putus bukan karena hobi berkelahinya Hilman. Bukan.

Dokter yang menangani Hilman keluar dari ruang UGD. Didot bertanya bagaimana keadaan Hilman. Dokter mengatakan berdasarkan gejala dan hasil CT Scan, Hilman mengalami gegar otak sedang.

“Beruntung karena dia tidak sempat pingsan saat terjadi benturan di kepalanya,” kata dokter, “Pastikan dia tidak melakukan aktivitas yang berat. Biarkan dia tetap istirahat dan obatnya harus selalu diminum karena biasanya gejala gegar otak masih terus berlangsung selama beberapa hari. Resep sudah saya berikan ke suster, nanti Anda bisa ambil,”

“Iya, terima kasih banyak, dok,” kata Didot.

Begitu dokter pergi, ketiga orang ini lalu masuk ke ruang UGD. Ruang UGD rumah sakit ini bersih sekali. Di dalam banyak tempat tidur berjejer yang dipisahkan lewat tirai dan hanya ada tiga tempat tidur yang ditempati, salah satunya ada Hilman. Mereka lalu menghampiri tempat tidur Hilman. Hilman sedang muntah dan dijaga oleh suster. Setelah puas muntah, suster lalu pergi membawa tempat bekas muntahan Hilman.

“Gue pergi beli minum dulu,” kata Bima, lalu berjalan keluar dari ruang UGD.

“Gue kenapa?” tanya Hilman, menatap Bima dan Tiara bergantian.

“Lo nggak kenapa-napa kok,” jawab Didot segera.

“Kepala gue sakit banget,” kata Hilman menutup mata.

“Kamu istirahat aja yah,” kata Tiara, menatap Hilman. Darah sudah hilang dari wajahnya diganti balutan perban.

“Makasih, Ra,” gumam Hilman.

“Heh?” Tiara mengerutkan kening. Dia tidak mendengar dengan pasti kata-kata Hilman. Yang dia lihat, Hilman tersenyum saat menutup mata.

Satu pemikiran pada “UN

  1. Ping balik: BEDA | i-not-chic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s